Tentang Hari Kartini

Seperti yg kita semua ketahui, hari ini tanggal 21 April adalah hari Kartini. Apa? Kamu ga tau? Bzzz.. cape deh

Anyway, normalnya pada hari kartini pada posting foto pake kebaya ato anaknya pake kebaya, ato cucunya pake kebaya (pasti itu nenek gaul banget bisa posting foto wkk). Tapi kali ini di jagat pertwitteran, aku menemukan sesuatu pendapat yg tak lazim dari suatu akun twitter yaitu @AsepKambali, yaitu ketidaksetujuan merayakan hari Kartini.

Aku kutip beberapa twitnya ya, kalo mo dicari langsung silakan aja, kalo masih ada itu juga wkk.

Faktanya Kartini adalah sosok yang tunduk kepada suami, dan tunduk kepada orangtua. Jika anda wanita yg menjunjung tinggi Kartini, anda harus siap patuh tanpa menolak ketika orangtua & suami melarang apa yg anda mau. Sosok Kartini yg tidak pernah memegang senjata, tidak pernah membunuh Belanda, bahkan dia hidup dari gaji yang diberi Belanda. Lalu mngapa ia bisa dianggap mnjdi seorang pahlawan nasional dan satu hari setahun kita peringati?

Iya ya, kenapa ya? Trus kalo kita nerusin baca twitnya lagi, ada pendapat seperti berikut.

Kartini di masa lampau a/ suatu bentuk protes trhdap pngekangan dirinya sendiri. Dia mnulis sbg bntuk curhat kpd rekannya lwt surat. Kalau kita ibaratkan saat ini mungkin Kartini curhat di inner circle Path, bukan ngetweet melalui twitter agar banyak yg membaca. Di masa Kartini, sosok perempuan menjadi objek – boneka bentukan Belanda terlepas dari pemikirannya.

Jadi intinya ini konstipasi eh konspirasi Belanda? Setelah aku googling, ternyata pendapat seperti punya kang Asep tadi bukan hal yang baru. Pro-kontra hari Kartini ini udh ada dari dulu ternyata *kemana aja ya*.

Menurut wikipedia, yg menjadikan dia pahlawan nasional adalah mantan Presiden Sukarno. Mungkin berdasarkan pemikiran Kartini dalam surat-suratnya yang kemudian dibukukan. Tapi menurut sumber disini, buku kartini tsb sempat diragukan juga keabsahannya karena terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

Jadi masih perlu ga ya hari Kartini? Apa kita ganti jadi hari Cut Nyak Dien aja?

3 thoughts on “Tentang Hari Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s